Derajat Ikhlas
Penjelasan Tentang Tingkatan Ikhlas dan Bahaya yang Mengeruhkan Ikhlas dalam Kitab Ihya Ulumuddin
oleh:Abu Nawas Majdub
Ketahuilah, bahwa bahaya-bahaya yang mengganggu ikhlas itu sebagiannya
jelas dan sebagiannya itu kuat serta tersembunyi. Dan tidak dapat
dipahami perbedaan derajat-derajat dalam hal tersembunyi dan jelas
kecuali dengan perumpamaan.
Paling jelas bahaya yang menggenggam ikhlas adalah riya.
Derajat yang PERTAMA: Syetan memasukkan bahaya atas orang yang mengerjakan shalat manakala ia
ikhlas dalam shalatnya, kemudian seseorang masuk, lalu syetan berkata,
“Baguskanlah shalatmu, sehingga org yg hadir ini memandang kepadamu
dengan pandangan kewibawaan dan kebaikan dan ia tidak memandang hina
kepadamu dan tidak mengumpatmu.”
Maka anggota badannya khusyu, sendi-sendinya tenang dan shalatnya baik.
Dan ini adalah riya yang tampak dan demikian itu tidak tersembunyi atas orang-orang yang pertama dari para murid murid.
Derajat yang KEDUA: bahwa murid itu telah memahami bahaya ini dan ia
berhati-hati padanya, lalu ia berpaling dan tidak mentaati syetan dan
melanjutkan shalatnya.
Lalu syetan mendatanginya dengan menampakkan
kebaikan dan berkata, “Kamu adalah orang yang diikuti dan diteladani dan
dipandang. Dan apa yang kamu perbuat itu membekas padamu dan orang lain
mengikutimu. Maka bagimu pahala amal perbuatan mereka kalau kamu
membaguskan amalmu dan atasmu dosa kalau kamu menjelekkan amalmu. Maka
baguskanlah amalmu di hadapannya. Mudah-mudahan ia mengikutimu dalam
kekhusyukan dan membaguskan ibadah.”
Ini adalah lebih samar daripada
yang pertama. Kadang-kadang tertipu padanya orang yang tidak tertipu
dengan yang pertama. Dan inu juga riya yang sebenarnya dan merusak
keikhlasan.
Derajat KETIGA: bahwa seorang hamba berhati-hati
terhadap tipu daya syetan. Maka ia membaguskan shalatnya di tempat yang
sunyi agar shalatnya bagus di hadapan orang banyak. Maka dia tidak
membedakan antara keduanya. Maka perhatiannya di tempat yang sunyi dan
di keramaian adalah kepada makhluk.
Derajat KEEMPAT, dan ini adalah
yang lebih halus dan lebih tersembunyi: bahwa manusia memandang
kepadanya, sedang ia tengah melakukan shalat, lalu syetan lemah untuk
berkata kepadanya, “Khusyuklah karena mereka”, karena syetan mengerti
bahwa orang itu lebih cerdas terhadap demikian. Lalu syetan berkata
kepadanya, “Berpikirlah ttg kebesaran Allah Ta’ala dengan keagunganNya
dan tentang Tuhan yang kamu berada di hadapanNya dan malulah bahwa Allah
melihat kepada hatimu, sedang ia lalai kepadaNya. Lalu dengan demikian
hatinya hadir dan anggota badannya khusyuk dan ia menduga bahwa demikian
ikhlas yang sebenarnya, padahal itu adalah tipu daya dan penipu yang
sebenarnya.
Sesungguhnya khusyu, jikalau pandangannya kepada
keagungan Allah, niscaya goresan ini terus menerus padanya di tempat
sunyi dan niscaya hadirnya goresan hati tersebut tidak tertentu dengan
keadaan hadirnya orang lain.
Tidak selamat dari syetan kecuali orang
yang halus pandangannya dan bahagia dengan penjagaan Allah Ta’ala,
taufiq-Nya dan petunjuk-Nya. Kalau tidak, maka syetan itu tidak
meninggalkan orang-orang yang rajin ibadah kepada Allah Ta’ala. Ia tidak
lalai dari mereka sekejap pun, sehingga ia membawa mereka kepada riya
pada setiap gerakan, sehingga pada mencelaki mata, menggunting kumis,
memakai wewangian di hari Jum’at dan memakai pakaian.
Karena itulah dikatakan, “Dua rakaat dari orang yang alim itu lebih utama daripada ibadah setahun dari orang yang bodoh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar