Minggu, 27 Januari 2013

DUA KENDARAAN KITA MENUJU ALLAH SWT

Saudaraku…
Pada suatu Umar bin Khattab ra pernah bertutur:

“Sekiranya sabar dan syukur adalah sebuah kendaraan. Maka aku tidak tahu mana yang lebih dahulu aku naiki.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Mengadakan perjalanan, terlebih perjalanan jauh tanpa fasilitas kendaraan adalah musibah dan bencana. Kepenatan dan kelelahan pasti menghampiri kita dan mungkin kita tak akan sampai pada tujuan. Kalaupun ada kendaraan, tapi tidak memenuhi syarat, terkadang justru akan menambah masalah, seperti mogok di perjalanan, terseok-seok dan seterusnya.

Sabar dan syukur adalah dua kendaraan yang kita pergunakan untuk mengadakan perjalanan menuju Allah swt. Kedua kendaraan itu harus selalu menyertai kita untuk menjaga keseimbangan dalam perjalanan. Ketiadaan atau kehilangan salah satu dari kendaraan ini, maka perjalanan kita menjadi oleng dan tidak seimbang.

Bahkan Ibnu Mas’ud menyebut bahwa iman itu terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah sabar, dan separohnya lagi adalah syukur.

Artinya tiada iman bagi orang yang tidak memiliki kesabaran dan syukur. Semakin sempurna sifat sabar dan tanda syukur yang kita miliki, berarti semakin baik pula iman yang tersemat di dalam jiwa kita. Sebaliknya, lunturnya sifat sabar dan syukur merupakan lambang ringkihnya iman dalam hati kita.

Saudaraku..
Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa kata sabar tertera dalam al Qur’an lebih dari tujuh puluh tempat. Sedangkan dalam tafsir al Sya’rawi disebutkan bahwa kata syukur dan turunannya disebut dalam al Qur’an sebanyak tujuh puluh lima kali.

Hal ini menunjukan bahwa kedua sifat tersebut tidak bisa kita tanggalkan walaupun sesaat dari diri kita. Karena memang keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Mungkinkah kita disebut insan penyabar, jika kita jauh dari kata syukur? Dan bisakah kita dinamakan manusia bersyukur tanpa memiliki kesabaran?.

Sauadaraku..
Dalam mendaki puncak ubudiyah, sabar mutlak kita butuhkan. Tanpa sabar, kita tak akan pernah sampai ke puncaknya. Dan bahkan mungkin kita akan terpelanting jatuh terkapar.

Shalat, puasa, haji ke baitullah, sedekah dan zakat, jihad di jalan Allah, memelihara amalan-amalan sunnah dan yang senada dengan itu. Perlu kesabaran ektra.

Menjaga keharmonisan rumah tangga. Mendidik anak. Berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan, warna kulit, adat istiadat, suku dan strata sosial berbeda. Bergaul dengan tetangga. Konsisten di jalan kekuasaan dan kursi jabatan dan seterusnya. Semuanya memerlukan kesabaran lebih.

Sabar juga dituntut dalam menghadapi musibah, bencana dan hal-hal yang tidak kita harapkan menyapa kita. Demikian pula sabar dalam menjauhi dosa dan maksiat serta godaan dunia lainnya, bukan perkara yang ringan dan mudah untuk kita lakukan.

Sabar dalam melaksanakan kewajiban syari’at dan menjauhi larangan-larangan-Nya merupakan bukti kesyukuran kita.

Saudaraku..
Untuk mengetahui kedalaman rasa syukur kita kepada Allah, cukup dengan kita menghitung nikmat yang Allah swt karuniakan kepada kita. Jika dari hari ke hari, nikmat pemberian-Nya semakin berkurang, sejatinya telah berkurang pula rasa syukur kita kepada-Nya. Bukankah Allah swt berfirman, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat-Ku kepadamu.” Ibrahim: 7.

Syukur, akan membuat hidup kita berpelangi. Kaya atau miskin. Sehat atau sakit. Bahagia atau merana. Lapang atau sempit. Apapun jabatan kita. Bagaimanapun keadaan kita. Selama hati dipenuhi rasa syukur, maka seulas senyum pasti mampu kita hadirkan dalam hidup kita.

Syukurnya hati, berarti kita mengakui karunia dan pemberian-Nya. Syukurnya lisan, wewujud dalam ucapan “Alhamdulillah” dengan sepenuh nafas. Dan syukurnya anggota tubuh, adalah mempergunakan anggota tubuh untuk mengabdi kepada Allah swt.

Dan bukti syukur kita kepada Allah swt, karena Dia telah mempertemukan kita dengan bulan yang mulia; Ramadhan. Adalah dengan memaksimalkan ukiran amal shalih, berbuat kebajikan, menghadirkan amal keta’atan di bulan ini. Sehingga keteledoran kita di Ramadhan sebelumnya, tidak terulang kembali pada Ramadhan kali ini.

Saudaraku..
Perjalanan kita terasa indah berseri, jika dua kendaraan itu menyertai kita. Dan sudah barang tentu, kita akan sampai kepada tujuan perjalanan kita. Bertemu Allah swt dengan wajah berbinar dan bercahaya. Amien. Wallahu a’lam bishawab.

Riyadh, 22 Juli 2012 M
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far
www.Inspirasiislami.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar